Agar Fisika tidak Seram Lagi

Suati hari di bulan April tahun 2010, Rosari Saleh terlihat santai di sebuah kedai kopi di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan. Profesor yang juga Guru Besar Fisika Universitas Indonesia itu tampil kasual dengan kemeja kotak-kotak dan celana jins belel. Dia hadir bersama dua rekannya.

Gaya bicara perempuan ini juga jauh dari kesan serius, meski sesungguhnya sosok ini sangat serius berniat membumikan fisika agar tidak menjadi momok bagi siswa.

Dua tahun lalu, perempuan yang akrab dipanggil Prof Oca ini membidani komunitas Kucing Fisika. Tujuannya, kata Oca, untuk menjangkau siswa setingkat SMA dan menunjukkan bahwa fisika merupakan ilmu yang menyenangkan.

“Misalnya dengan mengunduh video dari kegiatan-kegiatan sederhana yang bisa menjelaskan sebuah teori fisika,” ucapnya.

Sebelumnya, Oca pernah berusaha menjangkau guru pengajar fisika di tingkat SMP dan SMA. Namun, ia mengaku sedikit kesulitan. “Walau tidak semua, beberapa guru fisika yang pernah saya ajar belum memiliki semangat untuk mau mencari literatur dan berinovasi dengan fisika. Karena mereka harus melakukan hal-hal lain untuk menopang keluarga,” terangnya.

Oca pun mencoba hal lain dengan membuat situs beralamat www.kucingfisika.com, termasuk melakukan demonstrasi dengan peralatan sederhana di sekolahsekolah. Respons yang dituai ternyata mengagumkan. Belum genap dua tahun didirikan, komunitas ini telah berhasil menjaring sebanyak 17 ribu pengguna untuk bergabung di situs resmi tersebut. “Saya ingin membumikan fisika. Mencari cara agar masyarakat tidak memandang fisika sebagai momok,” ucapnya serius.

Kolaborasi Oca sadar betul fisika tidak dapat berdiri sendiri. Dia mengajukan contoh, “Misalnya panel surya. Memang betul ilmuwan fisika mengembangkan panel surya. Namun, tapi kita juga butuh tim manajemen, sosiolog, budayawan, sampai ahli hukum untuk membuatnya dekat dengan masyarakat,” terang Oca seraya mengangkat cangkir kopinya.

Sore itu, sepotong ide mengalir dari Oca dan dua orang teman diskusinya, yakni almunus FISIP dan Fakultas Hukum UI. “Yuk, kita buat pelajaran tentang ilmu forensik. Di sana ada unsur hukum, kriminologi, science, dan kedokteran. Biar semua bisa terintegrasi,” ucapnya.

Oca sendiri kini tengah meneliti reaksi virus H5N1 dan virus HIV terhadap obat secara simulasi komputasi. Selain itu, Oca menekuni penelitian partikel nano. Kesengsem fisika Sebelum menggeluti dunia fisika, Oca mengaku bukan pecandu fisika. “Saya tercemplung masuk jurusan Fisika UI,” ucap Oca lalu tertawa.

Awalnya, ia mengincar jurusan teknik sebagai labuhan menuntut ilmu selepas SMA. “Tahun pertama saya sempat mau pindah jurusan, tapi tesnya selalu bentrok dengan ujian di kampus.”

Hingga menyandang gelar sarjana sains pada 1985, Oca sangat tidakpuas terhadap apa yang dipelajarinya selama empat tahun. “Di kuliah kita belajar, ujian, lalu lulus. Tanpa tahu, apa yang sebenarnya kita pelajari,” ungkap Oca.

Berangkat dari rasa penasaran tersebut, Oca mencicipi fisika di ‘Negeri Panser ‘, Jerman. Oca melanjutkan studi di Universitas Marburg, Jerman, dua bulan berselang setelah kelulusannya di UI. Dia mendapatkan gelar doktor fisika di Universitas Marburg pada 1990.

Di sana, semua pertanyaan tentang ‘apa sebenarnya fisika’ yang selama ini berkecamuk dalam dirinya terjawab melalui seorang profesor bernama Peter Thomas.

Di kelas teori fisika yang diampu Peter, Oca selalu diminta duduk di barisan terdepan. Peter juga yang menjadi inspirator Oca untuk memahami berbagai teori fisika melalui kejadian seharihari. Salah satu contohnya adalah saat Peter menjelaskan tentang teori interaksi antarpartikel. Oca mengaku biasanya ia mendapatkan teori ini melalui rumus-rumus yang memusingkan kepala.

Namun, kali itu, sang profesor malah menyodorkan gambar dua buah apartemen, dan menjelaskan teori tersebut melalui interaksi yang terjadi antarpenghuninya. “Di sinilah saya sadar bahwa fisika seharusnya menyenangkan. Ia memang bukan suatu ilmu yang mudah, tapi fisika itu fun!” ucapnya bersemangat.

Setelah meraih gelar doktor di Jerman, sang ayah menyarankan Oca untuk mengambil jalur akademis untuk berkarier. “Ayah saya hanya bilang, bantulah almamatermu,” lanjut Oca. Ia pun setuju untuk mengabdikan ilmunya kepada dunia pendidikan Indonesia setelah menyelesaikan program pascadoktoral di Jerman selama tiga tahun.

Oca bergabung dengan para pengajar di Jurusan Fisika UI sejak 1993. “Kalau saya sudah suntuk di Indonesia, biasanya saya luangkan waktu 2-3 bulan untuk mengunjungi mereka dan bercerita banyak hal,” tandasnya lalu tersenyum.

Menghindari kegamangan

Dengan semangat bergelora, Oca mengawali kariernya sebagai staf pengajar di UI. Namun, Oca kerap kesal mendapati kenyataan yang ia temui pada diri anak didiknya. Ia mengaku ada jarak besar antara kemampuan maha siswa dan kesiapan mereka mempelajari teori-teori fisika yang diajarkan. “Saya ngajar mahasiswa semester enam. Saya merasa kemampuan mereka sebelum semester itu masih agak kurang,” imbuhnya.

Oca pun putar otak untuk menghadapi tantangan itu. Selain meminta untuk mengajar di semester yang lebih awal, ia juga mengubah formulasi pengajaran. Di kelas fisika asuhan Oca, setiap siswa haram hukumnya bila hanya mengandalkan satu sumber literatur. Belum lagi, semua referensi yang diberikan Oca adalah berbahasa Inggris. “Standar yang saya dapat dari menuntut ilmu di Jerman itu masih saya pegang teguh di sini,” kata perempuan berkacamata ini.

Ia tidak ingin mahasiswanya mengalami kegamangan yang sama seperti yang pernah ia alami setelah lulus kuliah. Untuk upaya yang satu itu, Oca mengaku belum puas meski beragam penghargaan telah diraih selama berkarier di dunia pendidikan.

“Setelah seorang peneliti mendapat penghargaan atau gelar, lalu untuk apa? Apakah gelar tersebut bisa bermanfaat untuk maha siswa dan masyarakat banyak? Jangan jadi seperti menara gading, setelah dapat penghargaan, terus seperti ondel-ondel saja,” kata Oca lalu menderai tawa.

Sumber : Metro TV News, 12 April 2010

Leave a Reply