Artikel ini telah tayang di Seputar Indonesia, Selasa 19 April 2011

INDONESIA ADALAH negara yang sangat haus sumber energi. Berdasarkan perhitungan Business Monitor International (BMI), konsumsi listrik nasional akan meningkat 24% dari 141,7 TWH pada 2010 menjadi 187,2 TWH pada 2015. Singkatnya, diperkirakan Indonesia akan mengalami kekurangan sebesar 2 TWh pada 2015 dengan asumsi pertumbuhan konsumsi listrik tahunan rata-rata 5,4% pada periode 2010-2015.

Semantara Indonesia terancam krisis bahan bakar fosil. Padahal saat ini minyak masih menjadi sumber energi utama Indonesia yang mencapai 45,9%, diikuti batu bara (25,1%), gas bumi (25%), tenaga air (2,3%), dan sisanya beberapa energi lain seperti geotermal, tenaga angin, tenaga matahari.

Tidak aneh jika nuklir tampak sangat menggiurkan: pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) diharapkan menjadi sumber energi Indonesia masa depan, apalagi diduga ia mampu menghasilkan listrik denga harga sekitar USD5sen per KWH.

Sayangnya perhitungan tersebut hanyalah perhitungan teknis-ekonomis yang acap mengabaikan risiko kerugian ketika kecelakaan terjadi. Seperti dikatakan Profesor Rinaldy Dalimi dari Universitas Indonesia, walaupun secara teknologi sudah terbukti bahwa PLTN aman apabila beroperasi dalam kondisi normal, kecelakaan yang terjadi justru di luar ketangguhan teknologi nuklir itu sendiri (Kompas, Setelah Bencana Nuklir di Jepang, 23/3). Contoh mutakhir ada pada PLTN Fukushima Daiichi di Jepang.

Energy Security?

Salah satu alasan utama Indonesia memikirkan untuk menggunakan nuklir adalah karena Indonesia ingin menguatkan energy security. PLTN dianggap akan melepaskan Indonesia dari energi fosil. Namun temyata premis itu tak sepenuhnya benar. Uranium, bahan bakar PLTN, belum diolah di Indonesia dan cadangan terbukti belum menjanjikan kalau ingin mengembangkan PLTN skala besar.

Harga uranium (U3O8) dunia pada 1990-an masih di bawah USD10 per pon, meningkat di atas USD10 per pon pada 2000, dan menanjak sampai level tertinggi USD130 per pan pada 2007-2008 walau saat ini turun lagi sekitar USD60 per pon. Ke depan, fluktuasi harga sumber daya langka ini dapat menjadi masalah.

Banyak yang bermimpi bahwa dengan membangun PLTN akan terjadi lompatan teknologi. Nyatanya baru memungkinkan jika kita bisa mendapatkan teknologi PLTN dari hulu sampai hilir mulai dari pengayaan uranium, pembangunan reaktor, rekayasa reaksi nuklir, pengolahan limbah nuklir, dan pengembangan sistem PLTN itu sendiri. Sayangnya yang bisa didapatkan adalah sebuah PLTN siap pakai yang akan dibangun oleh pihak asing, sedangkan Indonesia hanya bisa turut serta tanpa mendapatkan ilmu lengkapnya.

Analogi bisa diperoleh dari industri automotif. Maksimal yang kita peroleh adalah ilmu perakitan mobil—itupun sangat sulit memperolehnya— sehingga kita sekadar sebagai perakit. Kalupun ada inovasi, kita belum mampu 100% membangun mobil sendiri. Ada bagian-bagian penting dari mobil seperti mesin, girboks, dan system kelistrikan yang belum kita kuasai.

Saatnya Mengalihkan Target

Harus kita ingat bersama, memang PLTN itu untuk saat ini bisa menghasilkan energi yang nyaris tak terbatas jika dibandingkan dengan teknologi yang ada pada pembangkit jenis lain, tetapi kita juga harus paham bahwa potensi katastrofi yang dibawanya juga tak terperikan. Bahkan di Jerman, salah satu pengguna PLTN besar di dunia, Kanselir Angela Merkel sudah melakukan moratorium pembangunan PLTN dan memberikan subsidi pada pembangunan energi terbarukan.

Belum lama ini saya membaca sebuah artikel sangat menarik mengenai PT PLN yang akan memasang 340.000 panel surya untuk beberapa daerah di Indonesia bagian timur. Total investasi yang dilakukan akan mencapai Rp1,2 triliun rupiah. Sekalipun skala panel surya yang dipasang masih kecil –hanya untuk tiga lampu—, hal itu sudah bisa mengurangi pengeluaran rakyat dari yang menghabiskan Rp.90.000 per bulan untuk membeli minyak tanah bahan bakar lampu pe-tromaks ke Rp35.000 biaya bulanan ke PLN. (PLN to Install Solar Panels for 340.000 Costumers, Jakarta Post, 9/4).

Langkah itu sangat tepat. Tenaga surya adalah sumber energi yang kian booming. Instalasi tenaga surya di dunia meningkat 369% dari 1.425 MW di tahun 2000 menjadi 5.266 pada 2005 dan kembali meningkat 435% menjadi 22.928 MW pada 2009 (BP Statistical Review of World Energi 2010).

Kita tentu harus mengembangkan system yang dikenal dengan nama solar home system (SHS) ini. SHS sudah jauh lebih maju dan tidak lagi hanya untuk 3-4 bohlam, melainkan bisa memenuhi kebutuhan satu rumah kelas menengah. SHS bisa menjadi salah satu pintu kemandirian energi. Pelanggan dapat memproduksi energi listrik untuk kebutuhan sendiri dan bahkan menjual kelebihan produksinya ke PLN. Beban PLN pun akan tereduksi.

Selama ini banyak dari kita yang tidak mendapatkan penjelasan yang up to date tentang panel surya. Informasi yang disebarluaskan masih berpatokan pada pengetahuan lama yang menimbulkan persepsi bahwa panel surya mahal, efisiensinya rendah, dan tergantung cuaca (jika mendung tidak dapat dipakai). Padahal, perkembangan teknologi saat ini sudah jauh mengatasi masalah-masalah tersebut.

Kita juga harus ingat bahwa cara terbaik dalam menyediakan energi adalah dengan tidak menggantungkan pada satu sumber saja. Selain tenaga surya, masih ada tenaga angin, tenaga panas bumi dengan potensi 28 GW, air 75 GW, serta arus laut 240 GW. Kesemuanya harus dikembangkan secara paralel.

Daripada kita hanya membeli teknologi PLTN yang sudah jadi sehingga hanya akan terjebak menjadi negara konsumen, lebih baik kita ikut berlomba melakukan riset energi terbarukan dengan negara maju. Lihat saja negara maju yang sudah berlomba melakukan riset untuk menangkap energi matahari diluar angkasa dan dikirim ke bumi dengan sinyal elektromagnetik. Saya sangat yakin sumber daya manusia kita sangat mencukupi untuk itu. Apakah kita ingin kembali terlambat dan kembali terjerembab menjadi konsumen?