Artikel ini telah dimuat di Seputar Indonesia, Kamis 8 September 2011

PADA MEI lalu Perdana Menteri Jepang Naoto Kan, yang baru saja diganti, mengumumkan suatu terobosan besar dalam pengembangan energi terbarukan. Jepang menargetkan bahwa pada 2030 semua rumah tangga Jepang akan menggunakan tenaga matahari sebagai sumber energi listriknya. Pengumuman itu disampaikan tidak lama setelah krisis nuklir PLTN Fukushima Daiichi.

Sudah wajar kita terkejut karena selama ini Jepang menjadi salah satu role model pengembangan PLTN selain beberapa negara lain seperti Jerman, Prancis, dan AS. Mereka telah membangun 55 reaktor PLTN yang menjadi sumber energi utama. Bahkan, dalam rencana energi yang dipublikasikan tahun lalu, Jepang sempat berencana untuk menambah 14 reaktor hingga tahun 2030 dan PLTN akan menyuplai 50% energinya. Namun, kecelakaan Fukushima Daiichi telah membuat Jepang berpikir ulang (Reuters,10/5).

Di belahan bumi lain salah satu raksasa teknologi tinggi, Jerman, juga melakukan hal yang kuranglebih serupa. Pada 2022 Jerman akan menghentikan operasi 17 PLTN-nya dan itu dilakukan secara bertahap. Energi angin dan energi matahari menjadi pilihan energi pengganti.

Langkah yang akan diambil oleh Jepang dan Jerman tersebut seharusnya menjadi jawaban pula bagi Indonesia yang saat ini “in a limbo” dalam menentukan untuk memilih PLTN atau tidak. Sudah saatnya Indonesia menyelesaikan masalah ketergantungan pada bahan bakar minyak yang akan terus merongrong fokus bangsa jika tak dicarikan alternatifnya.

Pengembangan energi panas bumi sebagai salah satu pilihan sudah mulai menggembirakan. Dalam beberapa puluh tahun ke depan Indonesia mungkin masih aman karena diberkahi sumber energi panas bumi dengan potensi mencapai 28.543 MW atau sekitar 40% dari potensi dunia, dan baru hanya 1.189 MW yang sudah dikembangkan (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2011). Jika bisa dimaksimalkan, tentunya akan menjadi tambahan besar bagi sistem pembangkit energi Indonesia yang baru mencapai 31.442 MW (PLN, 2010). Narnun, ketika ekonomi Indonesia kian membesar, limit itu tak lagi bisa dilampaui.

Matahari yang nyaris tanpa limit bisa menjadi salah satu solusi. Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pun kian booming. Kapasitasnya di dunia meningkat 369% dari 1.425MW pada tahun 2000 menjadi 5.266 MW pada 2005 dan meningkat jauh menjadi 435% menjadi 22.928 MW di tahun 2009 (BP Statistical Review of World Energy 2010). PLTS sudah menjadi suatu potensi bisnis tersendiri yang digarap kian serius oleh negara-negara maju.

Hambatan

Mengapa Indonesia yang begitu kaya akan sinar matahari tidak serius mengembangkan energi alternatif yang sangat lucrative dan potensial ini? Setidaknya ada dua alasan besar. Pertama adalah mispersepsi yang ditimbulkan karena ketidaktahuan, keterbatasan pengetahuan, dan tidak up to date-nya informasi yang dimiliki. Kedua, ketidaksiapan secara sosial dan politik.

Ada beberapa mispersepsi mengenai PLTS yang menekan laju perkembangannya. Pertama, PLTS hanya untuk skala kecil. Padahal, perkembangan teknologi belakangan ini sudah sangat memungkinkan para ilmuwan untuk berbicara energi surya sebagai pembangkit skala besar hingga ratusan megawatt. Tingkat efisiensinya pun kian menggembirakan. Bahkan dalam skala penelitian, modul photovoltaic (PV) berbahan multicrystalline sudah mencapai tingkat efisiensi 25%. (jurnal Energy Policy nomor 38, 2010, Elsevier).

Pengembangan PV saat ini sudah mencapai generasi ketiga. Baru-baru ini hasil penelitian dari perusahaan New Energy Technologies-yang sudah menciptakan purwarupa panel surya- menunjukkan bahwa panel surya dapat dipasang di jendela sebagai kaca jendela. Sistem ini 300% lebih efisien daripada panel yang dipasang di atap Gedung (Inhabitat.com).

Kedua, bahan baku panel surya diprediksi juga akan habis pada waktu tertentu. Memang, selama ini banyak pihak yang berpikir bahwa bahan panel surya hanya alumunium dan tembaga yang memang hampir melewati limitnya beberapa puluh tahun lagi. Namun, ternyata silikon yang digunakan untuk sistem PV generasi terbaru masih sangat berlimpah. Kita harus ingat bahwa teknologi itu berjalan beriringan antara teknologi inti dan pendukungnya.

Ketiga, penggunaan energi surya sebagai energi alternatif menuntut pembiayaan yang tinggi. Sebagai sumber energi baru, sudah barang tentu harganya lebih mahal. Dengan kondisi sumber energi konvensional yang sangat murah dan ketiadaan insentif, sulit bagi energi surya untuk berkompetisi.

Kesempatan bagi Pemerintah

Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang pesat harus menangkap tren yang berkembang. Sekarang green technology adalah tren yang sedang menguat, karena kesadaran negara-negara maju kian tinggi, terutama karena tekanan climate change; Momentum sendiri sudah kita miliki, tapi kadang terlupakan. Presiden SBY belum lama ini sudati mengumumkan moratorium penebangan hutan sebagai bentuk kesepakatan dengan pemerintahan Norwegia senilai USD1 miliar dalam menjaga hutan. Langkah baik itu harus jadi momentum pengembangan energi ramah lingkungan.

Best practices pengembangan industri energi hijau di Korea Selatan layak dicontoh. Pada Agustus 2008 Korea Selatan menetapkan visi nasional “low carbon, green growth”. Pada 2009 Pemerintah Korsel mengumumkan akan mengalokasi-kan dana 107 biliun won (sekitar 2% GDP) untuk mendukung rencana pengembangan teknologi hijau secara komprehensif selama lima tahun.

Memang, risikonya pada permulaan Korsel tergantung pada impor karena teknologi rendah karbon seperti panel PV, turbin angin, dan berbagai macam barang industri masih mahal (World Investment Report: Low Carbon, 2010). Namun, Korsel memberikan berbagai macam insentif agar investasi asing di industri hijau berkembang. Berbagai insentif diberikan misalnya bantuan modal, potongan pajak, maupun penundaan pajak untuk perusahaan yang mengembangkan teknologi tinggi yang ramah lingkungan.

Hanya dalam tiga tahun Korsel mulai merasakan hasilnya. Beberapa industri besar sudah masuk dan mulai melakukan alih teknologi seperti misalnya Solarworld (industri PV dari Jerman), Acciona Energia (produsen pembangkit listrik tenaga angin dari Spanyol), Robort Bosch (produsen baterai Li-Ion dari Jerman yang dibutuhkan pembangkit tenaga surya dan angin). Pada 2009 saja investasi di bidang teknologi ramah lingkungan naik 34% dibanding tahun 2008.
Korsel saat ini sedang menatap kemungkinan akan menjadi pemain besar di bidang teknologi ramah lingkungan karena beberapa perusahaan domestik sudah mulai mendapatkan alih teknologi tinggi seperti panel PV dan baterai penyimpan. Indonesia memiliki potensi menggapai keberhasilan seperti itu, tinggal kita mau meraihnya atau tidak.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.