Artikel ini telah dimuat di Seputar Indonesia, Jumat 11 November 2011

MUNGKIN HINGGA saat ini masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya, mengapa negeri yang terkenal kaya akan sumber energi ini selalu mengalami masalah dengan suplai energi. Misalnya hampir tiap tahun anggaran bangsa ini tak henti-hentinya meributkan mengenai subsidi bahan bakar minyak (BBM), atau mengenai isu suplai batu bara dan gas bumi yang tak pernah cukup untuk pasar domestik, serta banyak isu lainnya.

Nyatanya memang Indonesia masih sangat kaya akan energi. Dapat dilihat dari cadangan minyak bumi yang diperkirakan bertahan 20-25 tahun lagi, gas bumi sekitar 60 tahun, serta batu bara yang diperkirakan akan habis dalam sekitar 140 tahun. Namun ternyata, Indonesia tidak cukup kaya jika harus menggunakan semua sumber daya bahan bakar fosilnya itu untuk kehidupan sehari-hari.

Saat ini saja dengan konsumsi minyak bumi 1,3-14 juta barel per hari kita sudah menjadi net importer, karena sekarang Indonesia hanya sanggup melakukan lifting minyak pada kisaran 960.000 barel per hari. Dengan sendirinya, kondisi ini mengganggu neraca ekspor impor serta APBN yang tersedot subsidi BBM. Hasil lifting itu pun harus kita bagi lagi dengan kontraktor produc-tionsharing (KPS).

Diversifikasi

Kondisi itu menyebabkan Indonesia sudah tidak mungkin lagi tergantung pada bahan bakar fosil jika tidak ingin terjerembab makin jauh dalam krisis energi. Diversifikasi energi menjadi satu-satunya jalan, yang selain tentunya harus ada Iangkah konservasi energi.

Diversifikasi energi sudah begitu sering diucapkan. Bahkan, diverifikasi itu sudah dibuatkan target jelas lewat Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Energi Mix Nasional. Namun sayangnya jika berkaca pada target energi mix itu saja, setelah lima tahun berjalan masih belum cukup menggembirakan. Sangat sedikit sumber energi terbarukan yang dikembangkan, dibandingkan laju kenaikan kebutuhan energi yang pada 2010 saja mencapai 7% per tahun (Kementerian ESDM, 2010). Hingga tahun 2010, berdasarkan data Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, komposisi energi mix nasional masih sangat bergantung bahan bakar fosil (95,21) yaitu minyak bumi (46,93%), batu bara (26,38%), gas bumi (21,29%), tenaga air (3,29%) serta tenaga panas bumi (1,5%).

Lebih jauh lagi, ternyata bisa dikatakan bahwa target energi mix itu sendiri sebenarnya menyimpan bahaya laten yang entah disadari atau tidak ketika membuatnya. Jika kita memperhatikan, misalnya, skenario Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN), kita akan melihat adanya masalah itu.

Dalam rencana yang sudah memasukkan program konservasi dan diversifikasi disebutkan bahwa pada 2025, Indonesia akan mengonsumsi 638,9 juta barel minyak per tahun. Konsumsi dialihkan pada be-berapa sumber lain yaitu batu bara (1.099,4 juta setara barel minyak/SBM), gas bumi (832 juta SBM), panas bumi (167,5 juta SBM), coal bed methane (127,8 juta SBM),biofuel (166,9 juta SBM), batu bara cair (80,5 juta SBM),tenaga air (65,8 juta SBM), nuklir (55,8 juta SBM), serta beberapa energi terbarukan lainnya (17,4 juta SBM).

Jika dengan konsumsi saat ini saja sekitar 500 juta barel minyak bumi per tahun, Indonesia sudah kesulitan dengan subsidi BBM maka bisa dipastikan andaikata blueprint tersebut dapat terlaksana 100% dengan konsumsi 638,9 juta barel pertahun pada 2025, Indonesia akan mengalami kesulitan lebih besar dibandingkan saat ini. Perlu diingat bahwa tren harga minyak itu terus naik. Di sisi lain, lifting minyak Indonesia terus melorot. Jika tetap stick pada target itu, bisa dikatakan secara perlahan Indonesia melakukan bunuh diri energi.

Satu hal lagi yang sering dilupakan adalah konservasi energi. Indonesia belum punya aturan kuat yang bisa memaksakan konservasi energi. Belum terlihat ketegasan pepelaksanaan disinsentif seperti yang diatur Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi Terbarukan, bagi yang tidak melaksanakan konservasi energi.

Energi Terbarukan

Energi terbarukan kian menjadi isu seksi. Jenis energi ini akan menjadi tren dunia hanya dalam hitungan beberapa dekade ke depan. Indonesia pun sudah tersadar untuk ikut tren itu. Namun sayangnya, Indonesia masih belum sepenuhnya fokus pada pengembangan energi terbarukan, namun hingga saat ini lebih fokus pada energi baru seperti liquefied coal, gasified coal, dan nuklir.

Indonesia bukannya tanpa pilihan. Bahkan, pilihan yang dimiliki sangat berlimpah. Ada beberapa sumber energi potensial yang bisa dimanfaatkan, seperti biofuel, tenaga panas bumi, tenaga matahari, tenaga angin, tenaga air, serta tenaga arus laut.

Misalnya untuk biofuel, dapat menjadi solusi masalah subsidi BBM. Brasil dan Amerika Serikat telah berhasil menjadi pemain utama dalam bidang ini dan menghasilkan untung yang sangat besar.

Sumber panas bumi Indonesia bahkan memiliki potensi hingga 27 gigawatt (GW). Potensi ini bisa dimanfaatkan untuk mengurangi pembangkit listrik bertenaga minyak bumi dan gas bumi.

Sementara tenaga surya yang instalasinya di seluruh dunia meningkat 1.400% dari 1.425 MW pada 2009, sudah patut dilirik. Sumber energi ini dalam skala kecil bisa digunakan untuk rumah-rumah mandiri energi (solar home system) dan bias dikembangkan dalam skala besar sehubungan dengan makin efisiennya pemanfaatan sumber energi ini.
Bahkan di negara-negara maju sudah mulai dibangun pembangkit dengan daya ratusan megawatt menggunakan tenaga surya. Sayangnya, sumber energi dengan potensi terbesar karena nyaris tak terbatas ini mendapatkan perhatian sangat kecil dibandingkan sumber lainnya.

Sumber-sumber energi terbarukan ini memang masih lebih mahal dari bahan bakar fosil. Namun jika pemerintah memang berniat lepas dari kungkungan bahan bakar fosil, harus serius mengembangkannya, misalnya dengan memberikan lebih banyak insentif semisal insentif pajak di bidang ini. Lagi pula, teknologi selalu menunjukkan tren perkembangan yang berkorelasi dengan turunnya harga.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.