Artikel ini telah tayang di Republika.co.id pada Selasa 13 Nov 2018 08:11 WIB

PERWAKILAN UNIVERSITAS INDONESIA memberikan pernyataan terkait perbedaan pemeringkatan terhadap UI. Meski pemeringkatan antara versi dunia dan nasional jauh berbeda, pihak UI menanggapi selisih tersebut dengan santai.

“Kami tidak terlalu fokus dengan peringkat apapun yang dibuat Dikti karena bagi kami yang penting bekerja sebaik-baiknya. Pengakuan akan datang dan terbukti sendiri,” kata Wakil Dekan Bidang Akademi, Riset, dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya UI, Manneke Budiman, Selasa (13/11).

Manneke memaparkan, saat ini UI konsisten mengejar standar kualitas dan kuantitas publikasi internasional berdasarkan QS Time Higher Education (THE) dan Scopus. Pada papan penilaian THE, UI menduduki posisi 601-800 ranking universitas terbaik dunia.

Pada QS World University Ranking, UI ada di peringkat 292 dunia dan 57 universitas terbaik di benua Asia dan nomor satu di Indonesia. Pemeringkatan THE didasarkan penilaian 13 indikator kinerja mendasari lima metrik yakni penelitian, pengajaran, pengaruh penelitian, pendapatan industri, dan international outlook.

Sementara DIKTI merilis Hasil Klasterisasi Perguruan Tinggi Non Vokasi pada Agustus 2018 dan menempatkan UI pada ranking keempat di bawah ITB, UGM, dan IPB. Manneke menduga, perbedaan tersebut bersumber dari standar penilaian yang tak sama.

Menurut Manneke, UI selalu berusaha mencapai target publikasi ilmiah, terutama untuk jurnal internasional. Peraih Doktor Filosofi Asian Studies dari University of British Columbia di Kanada itu mengatakan target UI saat ini adalah 3.000 per tahun.

Sementara, Wakil Rektor III Bidang Riset dan Inovasi UI, Rosari Saleh tidak banyak berkomentar tentang perbedaan pemeringkatan. Menurut Rosari, yang terpenting adalah bagaimana membawa nama baik Indonesia di peringkat internasional.

Berbagai terobosan baru untuk menggenjot publikasi internasional terus dilakukan UI, diantaranya dengan memotivasi dosen untuk memberikan pendampingan kepada mahasiswa S1 dan S2. Mereka dipacu agar bisa mempublikasikan karya skripsi dan thesis mereka di jurnal-jurnal internasional.

“Kami concern dengan ranking dunia. Untuk go global kami memilih yang universal saja, walaupun di dalam negeri kita tetap mengikuti ranking nasional, harus terima dengan nomor sekian,” ungkap Rosari.

Sumber Gambar