KAMPUS KERAP kali disebut sebagai menara gading. Artinya, banyak yang menyatakan bahwa hasil olah pikir dari kampus, belum dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Keluaran kampus masih terkesan di awang-awang, berada di tempat tinggi dan terhormat, namun tidak membumi. Kampus banyak menghasilkan penelitian besar, namun hanya berakhir di tumpukan buku dan jurnal ilmiah saja.

Namun kali ini, Universitas Indonesia (UI) mampu berkata lain. Melalui Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis (DIIB) yang didirikan, UI berhasil menunjukkan hasil kerja dari salah satu tenant binaannya, yakni PT Juragan Kapal Indonesia. Perusahaan ini kemudian menerapkan hasil riset di UI, dalam sebuah proyek pembangunan kapal yang tentunya dapat dimanfaatkan oleh nelayan nusantara.

Seperti telah diberitakan oleh kontan.co.id, pada pertengahan tahun 2018 kemarin, kapal pelat datar GT 20 dan GT 29 telah diluncurkan di pelabuhan muara angke, Jakarta Utara. “Saya berharap agar dosen-dosen UI mampu membuat penelitian ke arah publikasi dan komersil dan berguna bagi masyarakat,” demikian ujar Prof. Dr. rer.nat. Rosari Saleh, Wakil Rektor UI bidang Inovasi dan Riset melalui pemberitaan yang dirilis di kontan.co.id.

Mampu Menangkap Ikan dan Cumi dalam Jumlah Besar

Sementara itu menurut Jaringan Pemberitaan Pemerintah (JPP), teknologi pelat datar yang digunakan diakui telah memberikan alternatif sebagai kapal penangkap ikan yang unggul. Kapal ini menggunakan baja sebagai material utama. Yang menarik, produksi kapal ini tidak melalui proses pelengkungan pelat, sehingga hanya dikonstruksi dengan menggunakan pelat baja yang datar. Hal ini tentu saja, kemudian membuat kapal ini lebih ekonomis. Selain itu, material yang digunakan, diyakini dapat memudahkan nelayan kecil, agar mampu melaut lebih jauh lagi ke tengah, dengan membawa tangkapan yang lebih banyak.

Kapal buatan UI ini tergolong jenis kapal berkecepatan tinggi dengan menggunakan teknologi kapal pelat datar. Kapal ini berdimensi panjang 13,5 meter dan lebar 3,2 meter dengan tonase 10 GT. Memiliki tangki bahan bakar berkapasitas 1.000 liter dan mampu membawa 20 orang penumpang, 3 orang awak kapal, serta muatan 1 ton. Kapal ini memiliki ruang penyimpanan ikan hingga 20 m3 dengan fasilitas blast freezer sebagai ruang air sebesar 8 m3. Selain itu, juga terdapat perlengkapan navigasi dan telekomunikasi yang dapat memudahkan nelayan dalam mencari ikan.

Perjuangan Peneliti UI

Pembangunan kapal ini, tentu melalui proses panjang. Pada awalnya kapal ini diinisasi berdasarkan kebutuhan perkuliahan dan riset di Program Studi Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, UI. Ir. Hadi Tresno Wibowo M.T, selaku inisiator kemudian merancang pembuatan kapal, dengan dibantu oleh sejumlah mahasiswa, dosen dan alumni. Triwitono, pada mulanya disebut untuk menamai proyek pembuatan kapal yang memakan waktu hingga satu tahun ini. Sebelumnya, Hadi mengaku menghabiskan waktu hingga empat tahun untuk mewujudkan “angan-angannya” itu.

Pada 13 Oktober 2014, kapal Triwitono berhasil diluncurkan dengan menggunakan desain pelat baja datar. Pada awalnya kapal ini digunakan sebagai ruang kuliah alternatif bagi mahasiswa, dengan kapasitas 30 orang yang dilengkapi dengan papan tulis dan pendingin udara. Sambil mengitari danau UI, kapal pelat datar ini digunakan untuk membangun cita-cita bersama. “Mimpinya nanti punya kapal untuk belajar di laut dan untuk berlayar mengenal kekayaan laut,” demikian ujar Hadi kala diwawancarai pada tahun 2014 silam.

Pada penghujung tahun 2016, DIIB UI dan PT Juragan Kapal Indonesia berhasil memperoleh penghargaan rintisan teknologi industri yang diselenggarakan oleh Kementrian Perindustrian RI. Penghargaan RINTEK diberikan sebagai penghargaan tertinggi pemerintah kepada industri atau perusahaan yang telah secara luar basa menghasilkan perekayasaan dan invensi dan atau inovasi teknologi.

Peduli terhadap Nasib Nelayan

Di balik kegagahan kapal baja pelat datar, pembangunannya ternyata berawal dari kepedulian terhadap nasib dari nelayan tradisional. Untuk itu, generasi pertama kapal ini telah dimanfaatkan untuk membantu nelayan di desa Limbangan, Balongan, Indramayu, pada bulan Agustus 2012 silam. “Perguran Tinggi harus mempunyai inisiatif membantu kebutuhan masyarakat pesisir,” tandas Hadi Tresno.

Dikatakan olehnya, bahwa pelayaran rakyat dapat membawa dampak besar bagi pergerakan ekonomi di Indonesia. Pelayaran yang baik, akan dapat menyatukan pulau-pulau. Untuk itu Hadi berharap, agar UI dapat menjadi inisiator dalam bidang pelayaran rakyat. Kesulitan akses, diharapkan dapat diatasi oleh kehadiran kapal pelat datar yang dirancangnya.

Menurut Hadi, kapal kayu yang selama ini menjadi kapal tradisional, tidak dapat lagi terlalu diandalkan. Jumlah kayu kian langka, ditambah lagi tingkat kesulitan dalam membuat dan memperbaiki kapal saat mengalami kerusakan. Untuk itu, PT Juragan Kapal kemudian bekerjasama dengan PT Garuda Steel, sebagai penyedia baja.

Dengan menggunakan lempengan pelat baja datar, harus diakui bahwa bahan dasar pembuatan kapal menjadi mudah diperoleh. Kelebihan lain, kapal pelat datar ini masih dapat didaur ulang. “Proses pembuatannya juga mudah, tidak memerlukan waktu yang lama dan biayanya pun terjangkau,” tutur dosen teknik perkapalan UI ini.

Indonesia Mampu Membuktikan Diri

Keberhasilan peluncuran kapal ini, secara tidak langsung menjadi pembuktian bagi bangsa Indonesia untuk dapat masuk ke dunia maritim. Melalui perguruan tingginya, Indonesia dapat membuktikan diri untuk berkiprah di dunia maritim.

Namun demikian, keberhasilan UI tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Artinya, perlu kerja keras dan semangat tinggi dalam menghadapi aneka kesukaran. Kali ini, UI mampu membuat momentum yang luar biasa bagi dunia maritim di Indonesia.

“Pada awalnya orang memang gak percaya. Untuk membuktikan bahwa kita mampu, oleh karena itu, dengan sedapat mungkin, kita buat. Kalau sudah dibuat, orang coba, orang mulai percaya. Dari situ baru, nanti jalan. Nah, tingal tunggu momennya lagi,” demikian pesan Hadi Tresno Wibowo.