Wawancara ini telah tayang e-Paper Republika Edisi Rabu, 03 Juli 2019

PADA APRIL lalu, lembaga pemeringkatan perguruan tinggi dunia The Higher Education (THE) menobatkan Universitas Indonesia masuk dalam 80 universitas terbaik di dunia. UI dinilai mampu memberikan dampak luas bagi kehidupan sosial ekonomi melalui aktivitas riset, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Nama UI bagi masyarakat Indonesia memang cukup mentereng, selain UGM ataupun ITB.

Namun, capaian ini dilakukan dengan kerja keras mengubah paradigma tentang penelitian dan membudayakan riset di dalam kampus. Bukan hanya bagi mahasiswa yang mensyaratkan penelitian dan riset sebagai kelulusan, melainkan juga menyentuh pada riset yang harus dilakukan dosen. Pembangunan budaya riset di UI tak lepas dari kerja keras Wakil Rektor III Bidang Riset dan Penelitian UI Rosari Saleh.

Sosok yang akrab disapa Prof Oca ini berharap UI dan seluruh kampus di Indonesia kembali meletakkan basis riset sebagai fondasi dasar dalam pengembangan kampus.

Namun, hal itu bukan perkara mudah, selain belum menjadi kebiasaan, tantangan dari luar juga mengancam, seperti kebutuhan industri. Bagaimana Prof Oca mampu menguatkan iklim riset di internal kampus? Wartawan Republika Rizky Suryarandikaberbincang dengan Prof Oca di kantornya beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana iklim riset dan pene liti an di UI sehingga menorehkan catat an manis dari The Higher Education?

Memang prinsipnya kita dari ide dija dikan riset. Basic researchtidak bisa ditinggalkan karena ada adagium bahwa tidak ada negara maju tanpa basis riset yang maju, seperti Jerman, Amerika, dan Jepang. Walau sudah ada produk industri hasil riset, basis riset tetap dilakukan karena jadi dasar pengembangan, bukan cuma keilmuan yang dikembangkan. Itulah gunanya publikasi ilmiah. Dari sana timbul ide-ide, aplikasi inovasi, dan ada produk yang dihasilkan.

Sayangnya, negara kita ingin hilirisasi tanpa basic research, padahal perlu terus diperhatikan, jangan ditinggalkan. Dari situ me lihat kira-kira riset mana yang bisa diapli kasikan, lalu membantu masyarakat.Walau kita masih tertatih, saya gunakan konsep itu basic research, dari sini aplikasi ke mana, lalu apakah kemudian membuat itu menjadi produk. Ujungnya nanti menunjang Sustainable Development Goals (SDGs). Itu fokusnya dalam dua tahun terakhir. Tiga tahun pertama, kita harus terus pub likasi, budaya riset itu yang kurang tertarik. Kita coba tarik. Setelah itu, memikirkan ke depannya aplikasinya bagaimana ke masyarakat.

Apa strategi Anda menguatkan budaya riset di UI?

Dari Kanselir Jerman Angela Merkel saya belajar menghargai pengajar. Merkel bilang tidak bisa berikan gaji lebih besar dari guru dan dosen karena mereka yang membidani inovator dan peneliti. Dosen-dosen kansibuk, kalau diminta penelitian malas ka rena harus ngajardan tugas ke luar negeri. Penelitian kansyarat untuk naik pangkat, itu pun misal mereka enggakperlu naik pangkat bagaimana? Penghasilan peneliti juga enggakbesar, tidak tertarik mereka.La lu, saya coba buat tertarik dengan ada insentif penelitian. Juga ada pelatihan penulisan di jurnal ilmiah. Jadi, bila tiap produk artikel dibuat, dapat insentif, paling tidak itu ada sesuatu mereka dihargai. Prinsipnya menghargai usaha orang.

Sebenarnya juga yang punya kewajiban itu mahasiswa karena untuk tesis, disertasinya bisa ditulis. Saya membakar semangatnya dari mahasiswa. Saya berikan dana untuk penelitian mahasiswa yang bersama dosen pembimbingnya. Akhirnya, pembimbing mau enggakmau terpaksa mau. Hasilnya harus dipublikasi yang kita tentukan harus di mana.

Darimana acuan strategi tersebut?

Saya belajar dari Singapura, Malaysia, Thailand. Mereka mulai 20 tahun lalu dari konferensi-konferensi internasional di mana di sana undang peneliti-peneliti asing, disemi na si kan hasil mereka. Dari situ harapannya agak tergugah orang-orang di kampus. Juga, ada peluang kolaborasi. Kami beri bantuan fakultas adakan international conference, lalu setelah itu ke mana hasilnya?

Artikel ilmiah yang bisa ditulis dari situ harapannya jadi referensi yang lain, kami bantu mereka publikasikan hasil itu di jurnal internasional. Kami kolaborasi dengan penerbit dan jurnal asing. Pokoknya semua proses kami dampingi, jadi si dosen dan mahasiswa enggakmerasa dilepas, kami ingin kampus hadir buat mereka.

Salah satu kendala riset adalah dana, bagaimana Anda mengatasinya?

Kita ingin semua dapat kesempatan. Kalau semua mahasiswa dan dosen dapat insentif, saya rasa dana kurang. Sarana, prasarana, penelitian juga kurang, di kedokteran, MIPA, teknik, yang perlu peralatan canggih, kita tidak punya. Saya pun harus tawaf, keliling ke Batan dan LIPI untuk mengecek mereka punya alat yang kita butuhkan tidak, atau bisa kolaborasi dengan kampus luar negeri. Nah, kolaborasi ini yang lama kirim sampel ke luar negeri, harus pengukuran dulu di sana, lalu di sini dianalisis lagi dan ada biaya sewa juga.

Seberapa besar porsi bantuan dari pemerintah terhadap riset?

Saya lihat sekarang hanya seperlima dari kebutuhan. Sisanya harus diusahakan sendiri, baik dari dana masyarakat maupun kola borasi dengan kampus asing yang bersama bidding projectdi luar negeri.

Bagaimana dengan bantuan dunia usaha?

Ini sedang dirintis. Kalau bisa industri yang berhubungan dengan penelitian kita, ada di kampus. Harapannya bisa penelitian bersama dan mereka melengkapi laboratorium di kampus dengan dana mereka. Saya jajaki dengan Kimia Farma untuk penelitian scaffold biomaterial. Harapan saya nantinya ketika laboratorium industri ada di UI, bisa kolaborasi. Jadi, kita tahu kebutuhan mereka apa, kampus bisa bantu di mana.

Salah satu persoalan riset adalah sin kronisasi dengan kebutuhan industri, bagaimana Anda melihat hal itu?

Belum baik (sinkronisasi). Industri kita masih merakit. Harapan saya komponen dari kita ada. Tidak perlu 100 persen lah, tapi ada sebagian. Kita harus tanya ke industri, bisa kontribusi di mana? Itu mesti diusahakan. Tapi, industri cuma ingin barang jadi, padahal penelitian makan waktu dan proses.

Padahal, kita mungkin bisa buat bagian baterai, motornya untuk industri mobil. Walau secara keseluruhan, mobil jadi itu susah.

Ada hal-hal kecil yang bisa kerja sama dengan industri asal mereka mau ambil komponen kita.

Ke mana fokus riset yang dibangun di UI?

Ada banyak tantangan sosial yang dihadapi, kami kelompokan jadi lima yang utama. Yaitu, kesehatan dan kesejahteraan;energi dan sumber daya material; bumi, iklim dan lingkungan; masyarakat inovatif dan terhubung; ketahanan dan keamanan.

Pokoknya basis riset apa saja asal nanti diarahkan ke lima ini. Kelimanya jadi fokus riset dan inovasi UI untuk mencapai tujuan utama terciptanya sustainable nation.

Untuk masyarakat, misalnya, kita berusaha penelitian diarahkan bagi rakyat kecil.

Khususnya dalam ketahanan pangan harus kita mulai. Contohnya, UI berperan dalam pembuatan kapal pelat datar. Harapan dipakai nelayan. Dana dari Kemenristek dikti, kami sudah coba di Muara Angke beberapa tahun lalu. Bahannya ringan dari aluminium, tahan ombak dan murah biaya pembuat annya. Kami juga usahakan kapal bertenaga gas karena murah dan agar pembuatan es untuk ikannya itu bisa langsung dari air laut, diubah di laut, jadi tidak perlu bawa es dari pelabuhan.

Kami juga melakukan penelitian untuk petani. Awalnya, penelitian sosial melihat budaya mereka. Kita lihat bagaimana perubahan cuaca pengaruhi hasil pertanian, ada beberapa kasus kalau cuaca berubah jadi gagal panen. Petani biasa pakai budaya cara ber cocok tanamnya, jadi tidak bisa hindari gagal panen. Sekarang petani diubah budayanya selain bawa cangkul, dia bawa kertas, pensil ke sawah. Dia ukur curah hujan, lalu bisa ada insting untuk sesuaikan perubahan iklim. Itulah transfer knowledgebiar hindari gagal panen. Kami sudah dicoba di Sume dang dan Indramayu. Lalu, nanti kita ke NTB, Kalimantan, Gowa.

Dengan capaian saat ini, apakah iklim publikasi Indonesia bisa tertinggi di Asia Tenggara?

Dari segi jumlah (publikasi) bisa saja, tapi dalam kualitas kita relatif kurang. Harus digenjot kualitas biar hasil karya kita jadi referensi peneliti yang ada di negara lain.

Pesaing beratnya tapi ada Singapura, Malaysia. Singapura ini benar-benar fokus perhatian ke riset, khususnya teknologi, kedokteran, dan MIPA. Sejak 1995 saja anggaran buat riset sudah 2 miliar dolar Singapura, apalagi sekarang? Agenda riset mereka dari beberapa kementerian digodok, lalu kerja sama ke menterian fokus riset apa dan apa yang harus dilakukan. Itu bagi peneliti terasa sekali perlunya sinkronisasi. Saya pikir di sini satu sama lain tidak menunjang untuk negara kita jadi produktif dalam hal penelitian.

Walau sudah ada produk industri hasil riset, basis riset tetap jadi dasar pengembangan, bukan cuma keilmuan yang dikembangkan.