Artikel ini telah tayang di e-Paper Republika Edisi Rabu, 03 Juli 2019

PROFESI DOSEN sebenarnya bukan cita-cita Rosari Saleh. Bahkan, sejak di bangku sekolah, Guru Besar Fisika di MIPA Universitas Indonesia ini tak menyukai para pengajarnya. Ketidaksukaan itu berlanjut hingga ia menginjakkan kaki di kampus.

Dalam bayangan sosok yang akrab disapa Prof Oca ini, guru dan pengajarnya dulu sebagai sosok yang kaku dan tak pandai membawa suasana.

Namun, doktrin dari sang ayah Roeslan Saleh bahwa bagaimanapun guru adalah orang paling berjasa bagi kehidupan seseorang. Hal itu selalu diingatnya karena sang ayah sendiri juga sebagai pengajar. Roeslan Saleh dikenal sebagai profesor bidang hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM)yang kemudian mengabdi di Universitas Indonesia (UI). Sementara sang ibu, Tuty Roeslan Saleh, ialah seorang pegawai swasta dan pernah menjadi asisten dosen di FISIP UGM.

Ketidaksukaan Prof Oca dengan pelajaran di bangku sekolah membuat Oca remaja sering kabur dari pelajaran sekolah. Bukan untuk menongkrong, melainkan membolosnya dia untuk ikut kursus atau belajar sendiri di rumah. Ia menganggap guru mata pelajaran IPA tak membuatnya tergugah untuk belajar.

Oca malah kecewa dengan guru fisikanya yang membuat contoh penerapan fisika dengan tema peperangan. Misalnya, bom atom untuk contoh reaksi nuklir. Padahal, ia merasa banyak hal menarik di lingkungan sekitar untuk dijadikan contoh. “Saya pokoknya enggaksuka guru fisika yang kaku. Orang lain inginnya bisnis, saya maunya sekolah terus, saya mau dalami yang saya suka,” katanya saat ditemui Republika, belum lama ini.

Rasa ketertarikan Oca terhadap ilmu fisika terus berlanjut hingga bangku kuliah. Oca makin mendalami lalu jatuh hati dengan ilmu fisika. Pilihan mengambil kuliah lanjutan di Jerman diambilnya demi memenuhi cintanya itu. Beruntung Oca mendapat pembiayaan penuh dari orang tuanya setelah menjual sebidang tanah di Jalan TB Simatupang yang kini menjadi jalan tol.

Prof Oca tak pernah setengah-setengah saat menimba ilmu. Gelar tertinggi akademik, yaitu doktor, berhasil disandangnya dari Universitas Phillips, Marburg, Jerman. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Jerman, saat itulah Oca mengalami dilema. Antara pulang ke Indonesia atau bekerja di Eropa. Ia sempat berpikir realistis soal sarana, prasarana, dan suasana di Eropa mendukungnya untuk terus mengembangkan diri. Apalagi, Oca berkuliah bukan dengan biaya beasiswa pemerintah atau lembaga manapun. Sehingga, tiada ikatan pengabdian yang mesti dilakukannya di Tanah Air.

“Saya habis doktor itu dapat tawaran kerja di Swiss, di salah satu universitas yang kembangkan solar cell,” ujar perempuan kelahiran 5 Oktober tahun 1961 di Yogyakarta itu.

Saat itu, dalam benak Oca muda terpikirkan dua orang yang selalu memengaruhinya agar mengabdi di Indonesia. Pertama, ayahnya sendiri dan salah satu dosen yang paling dianggapnya berpengaruh, Prof Parangtopo. Bahkan, sang ayah secara tegas meminta Oca muda untuk kembali dan bisa mengajar di UI. Di sisi lain, sosok Prof Parangtopo punya jasa besar dalam jejak kariernya.

Sosok inilah yang mengajarkan Oca muda tentang filsafat kehidupan. Hal ini sangat memengaruhi perjalanan hidup Prof Oca yang kerap tidak tampil necis sebagai seorang pengajar. “Awalnya malas banget pulang. Tapi, kedua orang ini selalu pengaruhi saya buat pulang. Akhirnya, saya lama-lama setuju pulang saja deh,” ujarnya.

Selain terpengaruh oleh kedua orang tersebut, keputusannya pulang ke Indonesia diperkuat dengan kondisi kesehatan orang tua yang mulai mengalami sakit. Oca lalu merasa ingin mendedikasikan diri untuk menjaga orang tua sekaligus almamaternya. Tak terasa, sudah puluhan tahun berlalu usai Oca mengambil keputusan mengabdi di UI. Karier Prof Oca secara perlahan tapi pasti terus melonjak. Ia kini menjabat sebagai wakil rektor III bidang riset dan penelitian.Sebuah jabatan bergengsi yang mem buatnya menjadi pengawal arah penelitian UI.