Semua orang merindukan bisa terus membahagiakan orang tua. Apalagi saya. Saya tidak punya saudara kandung seorang pun dalam keluarga. Sebagai anak tunggal, saya terbiasa dimanja dengan banyak kasih sayang. Sangat jarang saya ditinggal sendirian, walaupun ibu saya adalah working mom. Beliau sempat mengabdi sebagai asisten dosen di FISIP Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta sebelum akhirnya bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan asuransi di Jakarta.

Mereka adalah warna hari-hari saya sejak lahir hingga dewasa. Mereka memberi saya banyak kecukupan bekal hidup, terutama dalam hal Pendidikan, prinsip hidup dan visi kemanusiaan. Walaupun anak tunggal, saya nggak pernah merasa kesepian. Karena saya senang berteman, punya sepupu-sepupu yang akrab dan tentu orang tua yang selalu menemani. Kami sering menghabiskan waktu bertiga bepergian ke berbagai tempat di dalam dan luar negeri. Saya sangat menikmati waktu bersama mereka.

Sampailah ujian itu datang. Ayah saya tiba-tiba berpulang pada tahun 1998. Saya sangat terpukul. Karena kepergiannya yang mendadak, ibu lebih terpukul.

Saat itu saya baru setahun diangkat sebagai Lektor Muda di Universitas Indonesia dengan golongan PNS adalah Penata III/c. Saat itu, semangat saya sebagai peneliti juga sedang naik. Dua tahun berturut-turut saya dipilih sebagai Peneliti Muda Berprestasi Universitas Indonesia (1996-1997) dan sempat meraih penghargaan Penulis Artikel Ilmiah Batch III dari Dirjen Dikti Depdikbud.

Belum seberapa besar saya membuat beliau bahagia dengan prestasi-prestasi kecil yang saya raih, ternyata Tuhan berkehendak lain. Ibu sangat terpukul saat itu. Beliau jadi lebih banyak diam, sempat malas makan dan beraktivitas.

Saat itulah, saya sadar bahwa kehidupan nyata sebagai anak sebenarnya baru saja dimulai.

Walaupun masih belum bisa menerima kepergian ayah, saya berusaha cepat bangkit karena saya tak mau melihat ibu saya terus bersedih. Kemana pun saya pergi, beliau selalu saya bawa. Termasuk saat saya harus merampungkan kerjasama riset di Jerman. Beliau saya bawa dan titipkan di rumah sepupu di Belanda.

Setiap minggu saya harus bertemu beliau. Walau hanya sekedar makan dan bercengkrama. Saya hanya ingin melihat ibu saya tersenyum, nggak sedih lagi.

Terbayang bagaimana beliau selalu membuat saya bahagia sepanjang hidup saya. Masih mengasihi saya, walaupun terkadang nakal. Saya ingin memulangkan semua kebahagiaan yang diberikan sepanjang hidup beliau. Walaupun mungkin tak akan pernah sebanding dengan yang telah diberikan kedua orang tua saya.

Hari-hari bersama ibu adalah warna dominan hidup saya setelah ayah tiada. Saat saya harus bepergian jauh, dan ibu tak mau ikut. Saya harus memastikan beliau dalam penjagaan yang baik karena degradasi kondisi kesehatan beliau yang menua.

Namun sebaik-baiknya saya menjaga beliau, tetap saja ada hal-hal yang terjadi di luar kuasa saya sebagai manusia. Kami kembali diuji.

Saya ingat betul, ketika itu saya sedang ditugaskan untuk bekerjasama di Taiwan pada bulan April 2016. Ibu saya tidak bisa ikut menyertai saya karena ada keperluan keluarga.

Tiba-tiba sahabat saya menelpon dan mengabarkan bahwa ibu terkena serangan stroke. Dia menolong menelpon emergency dan Ibu pun cepat dilarikan ke rumah sakit. Lemas sudah sekujur tubuh saya. Mendadak panik di tengah acara. Bagaimana ibu saya bisa jatuh sakit berat, justru saat saya jauh darinya. Padahal menjaga beliau selalu menjadi prioritas saya.

Alhamdulillah. Banyak pertolongan datang tak terduga. Saya selalu percaya, Tuhan selalu merancang skenario terbaiknya dan menolong kami dari setiap kesulitan. Saya tak berhenti bersyukur, ibu bisa mendapat pertolongan pertama dalam golden period stroke. Walaupun serangan itu tak bisa mengembalikan kesehatan fisiknya dan kini beliau harus terus terbaring di ranjang dengan pengawasan perawat di rumah.

Kadang kondisinya tidak stabil, saya selalu berusaha menemaninya begadang semalaman. Melihat setiap pergerakan tubuh dan ketidakstabilan emosi. Saya selalu berharap saya ada di sampingnya, walaupun banyak waktu saya tersita untuk menjalankan tugas sebagai dosen, terlibat dalam manajemen universitas juga tetap konsentrasi dalam penelitian. Setiap tahun, saya, sahabat-sahabat dan asisten rumah tangga berusaha merayakan hari ulang tahun ibu. Walaupun hanya dengan sepotong kue dan lilin di atas ranjang. Melihat ibu tersenyum gembira tanpa kata-kata, saya sudah sangat bersyukur. Beliau bisa menemani saya sampai sejauh ini. Tanpa doa beliau, apa jadinya saya.

Kami mungkin sudah tidak bisa berkomunikasi dengan kata-kata karena stroke membuat ibu saya tak bisa bicara. Tapi saya selalu berharap, ibu tetap bisa merasakan cinta saya sebagai anak yang mungkin tak pernah sebanding dengan cinta beliau. Saya merasakan betul mengapa Rasulullah SAW begitu menekankan kecintaan pada ibu hingga disebut tiga kali sebelum ayah.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)