Artikel ini telah dimuat di Kompas.com pada 15/08/2019, 12:41 WIB

SEBAGIAN MASYARAKAT menganggap pemerintah dan pengelola perguruan tinggi sibuk mengurusi berbagai hal guna meningkatkan peringkat kampus di tingkat dunia, padahal masih banyak urusan dalam negeri yang menyangkut kesejahteraan masyarakat kurang diperhatikan.

Menanggapi hal itu, Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Riset dan Inovasi Rosari Saleh mengakui anggapan itu ada benarnya. Dia menyetujui pihak kampus mendapat tuntutan meraih peringkat lebih tinggi lagi di level internasional.

Namun, usaha itu bisa dilakukan beriringan dengan penelitian berdampak pada kehidupan masyarakat sehingga kampus tidak hanya melakukan hal bersifat akademis, tetapi juga berdampak sosial.

Namun, semuanya itu membutuhkan dana yang mencukupi.

Riset berdampak masyarakat

“Dana itu bisa dikombinasikan sehingga kita bisa mencapai ranking dunia dan apa yang diinginkan masyarakat bahwa kemandirian bangsa juga harus ada,” ujar Rosari Saleh dalam temu media di kampus UI Depok, Rabu (14/8/2019).

Dia mengatakan, banyak sumber daya dan pendanaan yang terserap untuk meningkatkan peringkat kampus sekaligus melakukan riset yang berguna bagi masyarakat. Sebab, dana yang digelontorkan universitas lain dunia juga besar.

Dana itu dapat digunakan sekaligus untuk membuat produk-produk yang berdaya guna, misalnya di bidang ketahanan pangan, energi, dan bidang lain yang berhubungan dengan kemakmuran masyarakat.

“Artinya kita meraih ranking dunia sekaligus berkontribusi pada problem di masyarakat. Yang penting adalah regulasi yang bisa menggunakan produk tersebut. Jadi bukan hanya universitas, tapi negara juga harus memikirkan juga,” ucap Rosari.

Dia menuturkan, untuk bisa meraih peringkat lebih tinggi di tingkat dunia, UI bisa melakukan sejumlah terobosan agar bisa mencapai ranking yang lebih tinggi, baik di tingkat Aisa Tenggara maupun dunia, dalam lima tahun ke depan.

Kerja sama internasional

Salah satunya yaitu menjalin kerja sama internasional melalui dosen yang melakukan penelitian di kampus luar negeri. Nantinya kemampuan dosen itu akan bertambah dan bisa bersaing dengan dosen luar negeri.

“Jadi kita harus punya dosen yang berkemampuan riset taraf internasional sehingga orang luar negeri bisa menghargai kita bahwa UI reputasinya baik. Inilah yang harusnya didorong, yaitu kolaborasi internasional,” imbuhnya.
Dia menambahkan, pihak kampus juga bisa meminta bantuan dosen dari luar negeri untuk menjadi pembimbing. Namun, dosen itu tidak perlu mondar-mandir ke Indonesia. Dia bisa memberikan bimbingan dan berdiskusi melalui teknologi komunikasi, misalnya conference call.

“Sekarang sudah banyak yang lakukan, jadi enggak usah bolak-balik ke luar negeri. Kita bisa conference call dan diskusi soal hasil penelitian,” kata wanita yang biasa dipanggil Prof Oca itu.

Meski demikian, dia mengungkapkan bahwa mengirim langsung dosen dari Tanah Air untuk mengikuti diskusi dan melihat penelitian di kampus luar negeri juga sesekali harus tetap dilakukan untuk menjaga kualitas kampus dan membangun reputasi.