GENERASI milenial menjadi garda terdepan dalam kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu komponen utama kemajuan bangsa adalah peningkatan kualitas pendidikan sehingga menghasilkan generasi muda yang kompeten dan mumpuni.

Untuk mendorong itu, perguruan tinggi melakukan riset dan inovasi agar menghasilkan karya nyata dan menopang peradaban negara. “Riset dan inovasi harus memperlihatkan output agar berguna bagi banyak orang. Ini sekaligus membuktikan bahwa diri kita bukan macan kertas,” kata Wakil Rektor III Universitas Indonesia (UI) bidang Riset dan Inovasi Rosari Saleh.

Menurut dia, UI dalam lima tahun terakhir telah melaksanakan segala program pendampingan bagi para peneliti. Lebih jauh lagi, pendampingan dilakukan bagi perusahaan pemula (startup) dan pembentukan prototipe yang menjadi concern sebagai luaran dari riset dan inovasi.

“UI juga menggandeng sejumlah industri untuk bersama-sama menghasilkan prototipe, salah satunya dengan PT Daewoong Pharmaceutical Company Indonesia,” ungkapnya.

UI, menurut dia, menyadari bahwa generasi muda perlu mendapatkan bekal yang mumpuni sehingga mereka bisa beradaptasi dengan segala macam perkembangan. Demikian halnya dalam menghadapi era Industri Kreatif 4.0, UI telah melakukan berbagai upaya.

Riset dan inovasi yang dilakukan UI memfokuskan pada beberapa hal. Misalnya kesehatan dan kesejahteraan, energi dan sumber daya material, bumi, iklim dan lingkungan, termasuk ketahanan dan keamanan. Ini sesuai dengan multidisiplin ilmu dari 14 fakultas yang ada di UI.

“Fokus riset tersebut diharapkan berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan atau dikenal sebagai sustainable development goals (SDGs),” ungkapnya.

Rosari mengatakan, UI juga mengembangkan riset stem cell atau sel punca yang dilakukan
salah satu peneliti dari Fakultas Kedokteran kerja sama dengan Kimia Farma. Riset tersebut diganjar juara 1 pada Kategori Best Research Award, Ristekdikti Kalbe Science Awards 2016.

Riset tersebut menitikberatkan penggunaan sel punca pada proses penyembuhan kelainan pada tulang belakang. “Saat ini kami sedang mengembangkan penggunaan sel punca pada pengobatan diabetes, penanganan stroke, serta penggunaan zat-zat hasil sekresi sel punca untuk kecantikan dengan metode tissue engineering,” ucapnya.

Inovasi lainnya dilakukan peneliti FISIP UI dalam menghadapi konsekuensi perubahan iklim petani. Program tersebut dilaksanakan pada 2008 di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Kemudian di Kabupaten Indramayu pada 2009, Jawa Barat 2014, di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan di Kabupaten Sumedang, Jabar pada 2018.

UI juga menghasilkan riset berupa ice slurry generator, yaitu alat pembuat bubur es dengan menggunakan air laut sebagai bahan dasarnya. “Hasil riset yang dijalankan oleh salah satu peneliti dari Fakultas Teknik membantu nelayan mendapatkan es untuk pendingin ikan lebih mudah dan memperpanjang usia simpan ikan tangkapan mereka,” tukasnya.

Kemudian UI juga konsen mencegah terjadinya stunting dengan melakukan riset di Nusa Tenggara Timur kerja sama peneliti Fakultas Kedokteran dengan Pemerintah Daerah NTT. Kerja sama yang dilakukan untuk pencegahan stunting dan pemberian edukasi terhadap para kader PKK.

“Riset yang bermuara pada hilirisasi saat ini dominan di bidang kesehatan dan IT. Kami pun sadar hasil riset memang seharusnya bermuara pada hilirisasi dan kami sedang ke arah sana,” tandasnya.

Rosari menjelaskan, riset di perguruan tinggi memang sangat ditekankan. Sebab, pengembangan keilmuan tanpa riset akan sulit berkembang. Basic research, kata dia, perlu terus diperhatikan karena di sanalah tercuat ide-ide dalam pengembangan. Muara dari riset tersebut akan menunjang sustainable development goals (SDGs).

“Jadi, UI terus menggerakkan budaya sehingga makin banyak inovasi yang dihasilkan dari para peneliti,” tukasnya.

UI menyadari generasi muda memegang peranan penting kemajuan NKRI. Dengan demikian, diperlukan sinergi antara mahasiswa dan dosen agar sama-sama mencintai riset dan inovasi. Jadi, diharapkan akan banyak hasil riset dan inovasi yang dihasilkan agar bisa diimplementasikan di masyarakat dan industri.

“Kami sangat menyadari bahwa mahasiswa saat ini memiliki peranan penting dalam hal pengembangan dan kemajuan negara. Oleh karenanya, kami memperkenalkan kepada mereka mengenai pentingnya riset dan inovasi. Kami ingin menumbuhkan kecintaan mahasiswa terhadap dunia riset dan inovasi dan diharapkan para mahasiswa itu nantinya akan bisa jatuh cinta pada dunia riset dan inovasi,” tambahnya.

Dia menambahkan, hadirnya revolusi industri 4.0 memang harus diantisipasi dengan baik oleh semua pihak. UI menyadari betul bahwa hadirnya revolusi industri 4.0 berdampak pada semua sektor termasuk sektor ketenagakerjaan.

Oleh karena itu, harus dilakukan sejumlah langkah strategis sejalan dengan yang menjadi tema dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 pada 2019. Tahun ini Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengangkat tema “Iptek dan Inovasi Dalam Industri Kreatif 4.0” dengan subtema “Industri Kreatif 4.0 untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa” dengan tagline: “Inovasi, Bangun Bangsa”.

Rosari menuturkan, dalam era industri 4.0, perkembangan teknologi menjadi sangat penting. Internet yang terhubung dengan mesin atau digitasi interkoneksi menyebabkan rantai perdagangan menjadi jauh lebih simpel dan pada gilirannya akan menurunkan biaya operasional. Ketika pekerjaan di masa mendatang akan tergantikan oleh teknologi kecerdasan artifisial, seperti machine learning dan computer vision, maka banyak tenaga kerja terutama yang berpendidikan level bawah akan terancam. Bukan hanya itu, pekerjaan yang membutuhkan keahlian pun bisa digantikan oleh mesin.

“Yang menarik, beberapa industri dapat bertahan dari ancaman otomasi, salah satunya industri kreatif. Industri ini berbasis kepada kreativitas, seni, budaya, dan inovasi. Sektor inilah yang harus menjadi salah satu penggerak utama kegiatan ekonomi kita di masa depan. Industri kreatif kita telah menyumbang sekitar Rp990,4 triliun atau 7,44% terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun, masih banyak kendala dalam perkembangan industri kreatif di Tanah Air, mulai permodalan, ketiadaan HKI, hingga pasarnya masih terkonsentrasi secara lokal,” tukasnya.

Dalam era industri tersebut, UI terus mendorong pengembangan industri kreatif di tanah air. Ide-ide terobosan yang inovatif dari sivitas akademika UI ditampung dan didampingi untuk dikembangkan yang pada gilirannya memberikan peluang usaha mandiri terutama bagi mahasiswa UI. Beberapa hasilnya yang dapat disebutkan, antara lain flip.id, infishta.com, eatever.com, replus.co, dan thenblank.com.

Mereka bergerak di semua lini mulai dari bisnis finansial, kuliner, fashion, investasi, hingga produk efisiensi energi. Kelebihan industri kreatif yang dihasilkan oleh universitas adalah ide-ide tersebut berbasis riset dan inovasi, mendapatkan dukungan modal, mendapatkan pendampingan proteksi HKI, dan promosi.

“Kedepan, UI akan menciptakan lebih banyak lagi perusahaan pemula berbasis teknologi sebagai salah satu upaya membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Sumber: Koran Sindo