Kemampuan suatu universitas melakukan riset adalah kebang gaan utama di sektor pendi dik an tinggi. Riset adalah mahkota bagi peneliti. Kuantitas dan kua litas riset adalah mahkota utama bagi sua tu universitas.

Kebanggaan itu akan kian lengkap de ngan kepuasan jika riset tersebut menjadi solusi mujarab bagi masyarakat. Universitas Indonesia (UI) tempat penulis puluhan tahun mengajar dan meneliti, menempatkan semangat menghadirkan solusi bagi masyarakat itu pada visinya, yaitu menjadi pusat ilmu, teknologi, dan kebudayaan yang unggul dan berdaya saing. Tingginya posisi riset di perguruan tinggi inilah yang membuat penulis yang menjabat wakil rektor III bidang riset dan inovasi, pada 19 November lalu dan beberapa hari men dapatkan telepon dan pesan singkat melalui berbagai platform.

Pertanyaannya beragam, tapi kalau disarikan mayoritas seperti ini, “Prof, selama ini peringkat riset UI selalu masuk tiga besar, bahkan sering kali ada di peringkat satu, kenapa sekarang merosot ke peringkat 12?” Penulis mencari tahu apa yang membuat peringkat riset UI terjun bebas. Penulis cukup rutin memperbarui status riset yang dilaku kan civitas academica UI. Baik melalui sistem internal maupun sistem yang Kemen terian Riset dan Tekno logi/Badan Riset dan inovasi Nasional (sebe lum nya bernama Kementerian Riset dan Pen di dikan Tinggi), yaitu Science and Techno logy Index (Sinta) di laman .

Terakhir yang penulis ingat, UI masih di peringkat pertama, baik dari total nilai riset sepanjang yang dihitung sistem tersebut maupun total nilai untuk tiga tahun terakhir. Rupanya, pada 19 November itu, Kemen terian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN) melakukan konferensi pers dengan Judul “Hasil Penilai an Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi Ta hun 2016-2018”.

Penilaian kinerja berdasarkan data yang sudah dikumpulkan masing-masing perguru an tinggi di Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyara kat (Simlibtamas).

Penulis juga mengecek laman Sinta dan melihat UI masih di pe ring kat pertama untuk indeks penelitiannya. Pe n ulis pun lega jadinya. Ternyata, UI ada di peringkat itu bukan karena hasil peneliti an nya menurun atau jumlah penelitian mero sot.

Itu karena para penelitinya mungkin cukup banyak yang alpa mendaftarkan hasil penelitiannya di Simlibtamas. Penulis mela kukan penataan ke dalam, terutama untuk memudahkan para peneliti UI mendaftarkan hasil risetnya ke Simlibtamas.

Penulis tak ingin pencapaian riset yang merupakan mahkota kebanggaan bagi suatu universitas tak tercapai hanya karena keal paan dari sisi administratif. Tanpa pretensi mengecilkan pencapaian kolega di berbagai universitas, rupanya kita kembali berdebat dalam pemeringkatan yang cenderung berubah-ubah standarnya.

Akhirnya, kalangan pendidikan tinggi di Indonesia tanpa sadar dilenakan oleh pe ring katnya di indeks riset yang membaik hanya karena variabel indeks yang berbeda-beda. Padahal, rumus dasar dalam memban dingkan pencapaian suatu entitas dari tahun ke tahun adalah dengan standar yang sama. Jika ada beberapa jenis standar dengan varia bel berbeda, hasilnya akan beragam.

Bagi civitas academica tidak meng he rankan jika suatu hal dinilai secara berbeda oleh standar berbeda. Itu sebabnya, di kam pus perdebatan mengenai metodologi pene litian menjadi perhatian utama. Beda meto dologi, umumnya hasilnya ber beda.

Dalam suatu standar penilaian, akan ada berbagai variabel yang diharapkan bisa meng ukur pencapaian suatu entitas. Dalam konteks standar penilaian riset suatu uni versitas, beberapa variabel menjadi tolok ukurnya. Misalnya, jumlah riset yang dila kukan, jumlah riset yang dipublikasikan ke jurnal berstandar internasional, jumlah hak ke kayaan intelektual yang dimiliki, jumlah buku yang diterbitkan dan variabel lainnya yang relevan.

Semua pemangku kepentingan sektor pendidikan tinggi sama-sama mafhum, ke mampuan riset bukan hanya harus didorong, melainkan harus dilontarkan tinggi-tinggi. Merujuk pada publikasi Simlibtamas itu saja gambaran besar sudah terlihat.

Hanya 47 perguruan tinggi dari 1.977 per guruan tinggi yang terdaftar dalam sistem tersebut yang masuk kategori mandiri. Hanya 2,4 persen perguruan tinggi yang mandiri dari segi riset. Angka ini mengkhawatirkan.

Dengan konteks itu, solusinya bukan berdebat soal standar mana yang diikuti apalagi menyandarkan rasa puas kita pada penilaian berdasarkan standar administratif, melainkan meningkatkan mutu peneliti dan memberi kemudahan berbagai penelitian.

Standar penilaian kemampuan riset lem baga pendidikan tinggi dalam negeri bukan nya tidak dibutuhkan, melainkan sangat pen ting. Standar penilaian ini sebaiknya dise pakati mana yang akan digunakan bersama Kemenristek dan pihak pendidikan tinggi.

Ini terkait mana yang harusnya kita guna kan sebagai acuan untuk menentukan kuali tas suatu perguruan tinggi. Penyamaan per sepsi atas tolok ukur sangat penting agar kita memiliki pengertian yang sama mengenai capaian yang harus diraih, kriteria, dan orientasinya.

Dengan posisi Indonesia pada fase me nge jar ketertinggalan, sangat beralasan menggunakan standar yang diterima secara internasional dan sudah teruji menjadi alat analisis untuk memperbaiki kualitas riset. Kalau sekarang, sudah ada kesadaran kita masih tertinggal, yang perlu dilakukan adalah meneliti dan memastikan kualitasnya sesuai standar internasional. Bukan membuat standar baru yang justru menjadi halangan tersendiri dalam penelitian.

Standar internasional kita adopsi saja, sambil berjalan diperbaiki sesuai kekhasan Indonesia. Langkah itu akan menghindarkan kalangan pendidikan tinggi dari kepuasan semu yang datang dari posisi yang tiba-tiba meroket karena standar berbeda.

Diakui atau tidak, kita sering dilanda kegalauan berkepanjangan hingga berimbas pada perubahan manajemen pendidikan dan riset. Namun, tidak terjadi perubahan signi fikan dari sisi kualitas.

Salah satunya, karena kita cenderung meredam kekhawatiran bersaing secara internasional dengan standar yang terus diubah oleh kita sendiri. Mari kita meneliti untuk mengejar ketertinggalan!

ROSARI SALEH
Wakil Rektor III Bidang Riset dan Inovasi UI, Guru Besar FMIPA UI

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.